Tembang macapat dibedakan oleh tiga aturan yang bekerja bersama: guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu. Ketiganya mengatur jumlah larik dalam bait, jumlah suku kata pada tiap larik, serta vokal di akhir larik. Susunan aturannya berbeda pada tiap tembang, sehingga pola satu pupuh tidak otomatis berlaku untuk pupuh lain [1][2].
Tiga unsur yang membentuk pola
- Guru gatra menunjukkan jumlah larik dalam satu bait [2].
- Guru wilangan menunjukkan jumlah suku kata pada setiap larik [2].
- Guru lagu menunjukkan huruf hidup atau vokal pada akhir setiap larik [2].
Ketiga unsur itu dibaca berdasarkan urutan larik. Notasi 12-u, misalnya, berarti satu larik terdiri dari 12 suku kata dan berakhir dengan vokal u; angka dan huruf berikutnya menunjukkan ketentuan untuk larik selanjutnya [2]. Dengan begitu, mengenali bentuk sebuah pupuh berarti mencocokkan jumlah baris, hitungan suku kata, dan vokal akhir—bukan memeriksa satu unsur saja.
Kinanthi dan Pocung, dua susunan yang berbeda
Dalam Serat Wulangreh, Kinanthi memiliki enam larik per bait. Setiap larik terdiri dari delapan suku kata, sementara vokal akhirnya berurutan u, i, a, i, a, i [2]. Pola ini mempertahankan jumlah suku kata yang sama, tetapi mengubah vokal akhir sesuai posisi larik.
Pocung dalam Serat Wulangreh memiliki empat larik dengan pola 12-u, 6-a, 8-i, dan 12-a [2]. Dibandingkan Kinanthi, jumlah lariknya berbeda dan hitungan suku kata Pocung berubah dari satu larik ke larik berikutnya. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa nama pupuh merujuk pada kerangka yang khas, bukan sekadar label untuk isi puisi.
Membaca aturan tanpa menganggapnya seragam
Contoh Kinanthi dan Pocung tersebut mengikuti catatan pola dalam Serat Wulangreh. Aturan macapat dapat memiliki variasi menurut versi atau pakem yang dianut, sehingga contoh dari satu karya sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai satu-satunya pola yang berlaku [2]. Cara praktis mengenali bentuknya ialah memeriksa jumlah larik terlebih dahulu, lalu membaca hitungan suku kata dan vokal akhir sesuai urutannya. Dari rangkaian itulah perbedaan bentuk tiap pupuh terlihat dengan jelas.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Macapat. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29850681&title=Macapat (diakses 2026-10-02).
- [2] Wikipedia bahasa Indonesia — Serat Wulangreh. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29878054&title=Serat_Wulangreh (diakses 2026-10-02).